.

harap-harap kaye la aku

Showing posts with label abu nawas. Show all posts
Showing posts with label abu nawas. Show all posts

Thursday, May 12, 2011

jawapan abu nawas :hari ini apa yang dilakukan Allah Ta’ala, bintang di langit berapa jumlahnya, dan di mana letak pusat bumi kita ini?

Alkisah, Sultan Harun Al-Rasyid berang. Beliau tidak melihat batang hidung Abu Nawas di balairung pagi itu, padahal petinggi negara sudah hadir, leng,kap malah.
“Hai hambaku, panggil olehmu Abu Nawas sekarang juga,” perintah Sultan.
Setelah berdatang sembah, berangkatlah hamba itu ke rumah Abu Nawas. Kebetulan Abu Nawas ada di rumah, pagi itu ia tengah mengaji.
“Tuan Abu Nawas,” kata hamba raja itu. “Tuan hamba dipanggil oleh Duli Yang Dipertuan ke istana.”
“Mengapa Baginda memanggil aku?” tanya Abu Nawas.
“Entahlah, hamba tidak tahu,” jawab si hamba. “Tapi hamba disuruh memanggil Tuan hamba sekarang juga, karena Duli Syah Alam sudah lama menanti Tuan hamba.”
“Baiklah,” jawab Abu Nawas. Dan bergegaslah ia ke istana diiringi hamba raja di belakangnya.
“Hai Abu Nawas,” kata Baginda begitu melihat Abu Nawas berdatang sembah kepadanya. “Mengapa kamu tidak datang menghadap kepadaku?”
“Ampun beribu ampun,” jawab Abu Nawas. “Hamba sedang sibuk, di rumah banyak pekerjaan.”
Baginda bertanya, “Aku ingin tahu, hari ini apa yang dilakukan Allah Ta’ala, bintang di langit berapa jumlahnya, dan di mana letak pusat bumi kita ini?”
Sembah Abu Nawas. “Mohon ampun ke bawah Duli Syah Alam. Insya Allah sedapat-dapatnya hamba akan memberi jawaban. Tetapi lebih dahulu perkenankan hamba mengajukan permintaan kepada Paduka. Apabila pertanyaan Baginda tidak boleh dijawab di sembarang tempat, bila Baginda berkenan, silakan Baginda turun dari tahta kira-kira setengah saat saja dan perkenankan hamba duduk di situ.”
Syahdan Baginda turun dari singgasananya dan segera diduduki oleh Abu Nawas.
“Hai Abu Nawas, sekarang jawablah pertanyaanku tadi,” perintah Baginda
“Adapun pada hari ini,” jawab Abu Nawas, “pada saat ini dan detik ini, inilah yang dilakukan Allah Ta’ala, yaitu menurunkan Tuanku dari singgasana dan menaikkan hamba yang hina ini ke tempat Syah Alam. Jika Tuanku ingin tahu jumlah bintang di langit, harap Tuanku bersedia menghitung bulu kulit kambing ini.” Berkata begitu Abu Nawas sambil menyodorkan sehelai kulit binatang tersebut. “Kalau jumlahnya tidak sama dengan jumlah bintang di langit, silakan bunuh hamba.”
“Siapa yang mampu menghitung bulu kambing?” tanya Baginda.
“Bintang di langit itu pun demikian juga, Tuanku. Siapa yang bisa menghitungnya kecuali Allah Ta’ala,” kilah Abu Nawas.
“Dimana letak pusat bumi kita ini. Lekas jawab,” gertak Baginda.
“Baiklah, Tuanku Syah Alam,” jawab Abu Nawas sambil meraih tombak dari tangan punggawa. Kemudian tombak itu ditancapkan di depan Baginda. “Inilah, Tuanku, pusat dunia kita, tidak akan salah lagi. Apabila Tuanku tidak percaya, silakan Baginda menyuruh rakyat mengukur panjangnya ke barat dan ke timur.”
“Siapa orangnya yang mampu mengukur itu?” tanya Baginda.
“Itulah sebabnya hamba menunjuk titik ini sebagai pusat dunia kita,” kata Abu Nawas lagi.
Demi mendengar perkataan itu, semakin bertambah kagumlah Sultan kepada Abu Nawas.

kisah abu nawas, tiada ruku' dan sujud dalam solat

Syahdan, Khalifah Harun al-Rasyid marah besar pada sahibnya yang karib dan setia, yaitu Abu Nawas. Ia ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa: tidak mau ruku’ dan sujud dalam salat. Lebih lagi, Harun al-Rasyid mendengar Abu Nawas berkata bahwa ia khalifah yang suka fitnah! Menurut pembantu-pembantu-nya, Abu Nawas telah layak dipancung karena melanggar- syariat Islam dan menyebar fitnah. Khalifah mulai terpancing. Tapi untung ada seorang pembantunya yang memberi saran, hendaknya Khalifah melakukan tabayun (konfirmasi) dulu pada Abu Nawas.

Abu Nawas pun digeret menghadap Khalifah. Kini, ia menjadi pesakitan. ”Hai Abu Nawas, benar kamu berpendapat tidak ruku’ dan sujud dalam salat?” tanya Khalifah dengan keras.

Abu Nawas menjawab dengan tenang, ”Benar, Saudaraku.”

Khalifah kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi, ”Benar kamu berkata kepada masyarakat bahwa aku, Harun al-Rasyid, adalah seorang khalifah yang suka fitnah?”

Abu Nawas menjawab, ”Benar, Saudara-ku.”

Khalifah berteriak dengan suara menggelegar, ”Kamu memang pantas dihukum mati, karena melanggar syariat Islam dan menebarkan fitnah tentang khalifah!”

Abu Nawas tersenyum seraya berkata-, ”Saudaraku, memang aku tidak menolak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya kabar yang sampai padamu tidak lengkap, kata-kataku dipelintir, dijagal, seolah-olah aku berkata salah.”

Khalifah berkata dengan ketus, ”Apa maksudmu? Ja-ngan membela diri, kau telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya.”

Abu Nawas beranjak dari duduknya dan menjelaskan dengan tenang, ”Saudaraku, aku memang berkata ruku’ dan sujud tidak perlu dalam salat, tapi dalam salat apa? Waktu itu aku menjelaskan tata cara salat jenazah yang memang tidak perlu ruku’ dan sujud.”

”Bagaimana soal aku yang suka fitnah?” tanya Khalifah.

Abu Nawas menjawab dengan senyuman, ”Kala itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 Surat Al-Anfal, yang berbunyi ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah ujian bagimu. Sebagai seorang khalifah dan seorang ayah, kamu sangat menyukai kekayaan dan anak-anakmu, berarti kamu suka ’fitnah’ (ujian) itu.” Mendengar penjelasan Abu Nawas yang sekaligus kritikan, Khalifah Harun al-Rasyid tertunduk malu, menyesal dan sadar.

Rupanya, kedekatan Abu Nawas dengan Harun alRa-syid menyulut iri dan dengki di antara pembantu-pembantunya. Abu Nawas memanggil Khalifah dengan ”ya akhi” (saudaraku). Hubungan di antara mereka bukan antara tuan dan hamba. Pembantu-pembantu khalifah yang hasud ingin memisahkan hubungan akrab tersebut dengan memutarbalikkan berita.